Perempuan mawar merah berdiri tegak menatap lanskap itu dengan hati rusuh. Air matanya merabas ke pipi. Badannya meretek ditikam hawa dingin. Hatinya renyek oleh kenangan yang pahit. Kenangan tentang lelaki pecinta mimpi yang pernah memetik rembulan dan bintang ke pangkuan.
Kenangan itu berawal pada sebuah musim semi, ketika lelaki pecinta mimpi hendak mengajaknya berlawalata ke ujung cakrawala - ke tanah nirmala. "Aku ingin kau menemaniku menghabiskan sisa hidupku," begitu lelaki pecinta mimpi memberinya janji.
Tapi janji itu ternyata tak pernah ditunaikan. Langkah mereka berhenti begitu saja di tengah jalan tanpa tanda-tanda apa pun sebelumnya. Tujuan bahkan belum ada separuhnya.
Mengingat semua kenangan itu, jantungnya merenyut kencang. Ia memang tak pernah menyesali serpihan kenangan, juga pertemuannya dengan lelaki pecinta mimpi. Tapi ia sulit mengerti, mengapa jalan jadi begitu ruwet dan licin?
"Apakah aku cuma pungguk yang merindukan bulan?" begitu perempuan mawar merah bertanya-tanya.
Di pinggir danau yang beriak tenang, lelaki pecinta mimpi duduk sendiri di atas resbang kayu mahoni. Gerimis jatuh. Pelangi meringkus sepi. Senja sebentar lagi datang. Angin yang mendesah sayup-sayup mengantarkan sebait senandung sendu ...
Seems like forever and a dayIf my intentions are misunderstoodPlease be kindI've done all I shouldI won't ask of youWhat I would not doOh, I saw the damage in youMy fortunate oneThe envy of youthWhy would theyTell me to please thoseThat laugh in my face?When all of the reasonsThey've taught usFall over themselvesTo give way ... *) This I Love - Axl Rose
Lelaki pecinta mimpi tak mengira apa yang pernah dimulainya ternyata tak pernah diselesaikannya. Cinta mungkin memang ruang dan waktu. Ia bisa habis hari ini, di tempat ini. Tapi bisa tumbuh kembali esok atau lusa di ladang yang lain.
"Tapi aku bukan sedang mereta-reta. Janjiku bukan bualan belaka," begitu hatinya berteriak kencang.
Bagi lelaki pecinta mimpi, hidup ternyata seperti lorong yang ruwet dan licin. Dia kehilangan pegangan di tengah jalan; lalu sesat di bawah sinar matahari terang. "Perempuan mawar merah itu pasti tak pernah memaafkan diriku."
Di pinggir lanskap yang muram, perempuan mawar merah itu masih berdiri tegak dalam kelimun kabut. Dia menggeleng-gelengkan kepala bagaikan hendak mengusir gundah.
Ask yourselfWhy I would chooseTo Prostitute myselfTo live with fortune and shame?Oh yeahWhen you shouldHave turned to the heartsOf the onesThat you would not saveI told youWhen I found youAll that it amounts toIs love that you fed byPerversion and pain ... *) Prostitute - Axl Rose
Dan, helai-helai bunga mawar merah pun luruh ke tanah...
Cerita ini ditulis oleh ndoro kakung
Cerita ini ditulis oleh ndoro kakung


Tiada ulasan:
Catat Ulasan